18 Apr

Time : midnight random thought

Hi, this is my first blog post in English.  feel free to mock, and criticize me.

A friend of mine was having her birthday, the day I wrote this blog post. A friend of my silly college time.  Her 26th birthday somehow reminded me of how old I am, and how time had been already passed 6 years since my second year college time.

Time … huh

A fourth dimension of our existence, a concept that is very daunting yet magnificent. People do obsess with time. They try to slow down the time by obscuring its trace in their physical appearance, ignore its existence by creating distraction in their ears or eyes.

For people who ‘dignify’ their life by finding meaning, time is such a jerk who bound their freedom in living their value and creating meaning in their life. It is somehow frustrating, I guess, or at least that is what I feel.

Time bounds our freedom, it enslaves us.

It is tempting to declare war against time (a bit inspired by Nietzche), but it seems that time is too powerful to challenge. I cannot see any chance of winning neither the battle nor the war against time.

How could people be at peace in this dreadful slavery? Are we cursed like sisphus who was condemned by gods?

09 Oct

Cerita tentang Kereta #2

Salah satu hal yang betul – betul saya nikmati dalam perjalanan dengan kereta api adalah kesempatan untuk berinteraksi dengan teman seperjalanan. Kesempatan untuk duduk bersebelahan dengan orang yang sama sekali tidak kita kenal sebelumnya selama hampir sepuluh jam (perjalanan Klaten – Bandung) menjanjika sebuah petualangan dan pengalaman sosial yang selalu baru dan menarik.

Saya selalu berusaha berbincang dengan teman seperjalanan di sebelah saya. Dari mulai obrolan yang cimpi – cimpi sampai obrolan yang lebih dalam dan kadang bahkan bisa ke level kedalaman yang banyak teman terdekat saya belum pernah mendengarnya.

Agak aneh ya, kok bisa kita bisa membuka diri sebegitu dalam dengan orang yang tidak kita kenal sama sekali.

Tidak kita kenal sama sekali

Itulah kuncinya. Saya bisa membuka diri dengan orang yang tidak saya kenal karena memang saya tidak pernah berencana untuk berkenalan (identitas : nama, alamat, no telp, dll) dengan orang yg ada di sebelah saya.

Jadi begini, biasanya saya basa basi dengan orang di sebelah saya, tanpa pernah memperkenalkan diri dan bertanya nama kepada orang tersebut. Saya biarkan saja obrolan tersebut mengalir dengan lembut ke topik topik selanjutnya. Dengan cara seperti ini saya bisa memperbincangkan banyak hal tanpa harur risih dengan orang yang tidak saya kenal.

Oke saya sudahi saja tulisannya, kasihan mas mas di sebelah saya yang katanya mau ke Bandung buat wawancara kerja jadi di anggurin.

08 Oct

Cerita tentang Kereta

Kereta api dulu begitu ramai dan sedikit semrawut. Pedagang yang bebas keluar masuk ke dalam gerbong selama kereta berhenti di stasiun, jumlah penumpang yang tidak dibatasi adalah setidaknya dua dari beberapa hal yang berkontribusi dalam membuat kesemrawutan dalam gerbong kereta.

Tapi rasanya hal itulah yang membuat kereta api itu begitu hangat dan manusiawi.

Namun, semenjak jasa transportasi kereta api direvolusi, kehangatan dan interaksi yang semula begitu pekat terasa mulai hilang sedikit demi sedikit. Sekarang sudah tidak ada lagi pedagang yang dengan lihai menyelipkan kaki di antara para penumpang yang tertidur di lantai kereta api untuk menjajakan dagangannya di tiap gerbong. Tidak ada lagi suntikan adrenalin yang muncul akibat harus memberikan kembalian di saat kereta sudah mulai melanjutkan perjalanan. Tidak ada bocah – bocah yang dengan sigap melompat dari gerbong ketika kereta mulai berjalan.

Saya sempat berpikir berapa jumlah orang yang terampas mata pencahariannya demi kenyamanan yang saya rasakan saat ini. Apakah ada kompensasi yang diberikan kepada pedagang asongan yang mungkin sudah sejak puluhan tahun berjualan di sekitar stasiun?

Pertanyaan itu entah kenapa baru muncul sekarang, padahal perubahan ini sudah saya rasakan semenjak tiga tahun lalu.

Entah lah,

04 Aug

Berlari

Lari dalam 2 tahun belakangan menjadi sebuah olah raga yang cukup populer di kalangan kelas menengah Indonesia. Hal ini terlihat dari menjamurnya komunitas lari dan perhelatan (event) lari yang diadakan di berbagai penjuru kota besar dan obyek wisata di Indonesia. Sebut saja Jakarta Marathon, Bali Marathon, dan Borobudur Run merupakan sebagian dari perhelatan lari yang diadakan di negeri ini dengan skala yang cukup besar.

Kepopuleran lari sebagai sebuah olah raga kaum urban kelas menengah di Indonesia juga memberikan posisi baru bagi atlet dan pegiat lari di Indonesia. Jika 3 tahun yang lalu nama mereka tidak terlalu populer, semenjak lari menjadi sebuah olah raga yang diminati oleh banyak orang, para atlet dan pegiat lari mendadak menjadi terkenal layaknya olahragawan dari cabang olahraga yg lebih populer seperti sepak bola, atau basket. Masih hangat dalam ingatan saya betapa ramai sambutan yang diberikan para peserta Jakarta Marathon tahun lalu ketika pembawa acara memperkenalkan para elite runner yang berpartisipasi dalam perhelatan tahunan tersebut. Bahkan banyak peserta yang berebut untuk melakukan swafoto (selfie) dengan para atlet lari tersebut selepas acara.

Fenomena ini menurut saya harus bisa dimanfaatkan dengan cermat dan baik oleh para pemegang kepentingan di negeri ini. Kepopuler olah raga ini memberikan dorongan imaterial yang cukup besar jika pemerintah dan para pelaku ekonomi yang memiliki kepentingan dalam memajukan olahraga lari, beserta aspek aspek ekonomi yang terkait dengannya. Jika para pemegang kepentingan mampu berselancar dengan baik di atas gelombang kepopuleran ini, tentu akan memberikan efek positive, setidaknya bagi para atlet dan pelaku ekonomi yang terkait dengan olah raga ini.

Hmm panjang juga ya tulisan saya pagi ini, entah pengaruh adrenalin yang terpompa sehabis berlari beberapa putaran di trek lari saraga, atau perut keroncongan yang sedari tadi pagi berontak minta diisi yang memicu tulisan ini. Tapi apapun itu saya pagi ini sedang menikmati efek meditatif dari olah raga lari.

Jika dulu dalam sebuah lokakarya meditasi saya dikenalkan dan berlatih tentang sitting meditation, walking meditation, eating meditation, dan bahkan sleeping meditation, mungkin saya pagi ini sedang terjebak dalam ruang latihan kesadaran di dalam running meditation.

Mari berlari..

14 Mar

Python 0.1 String and Python Format

This post is designed as tracker and documentation for my python learning journey. The script below is adapted from “Learning Python The Hard Way” by Zed Shaws.

my_name = 'Yoseph Datu Adiatma'
my_age = 24 #this july
my_height = 169 #cm
my_weight = 75 #my target
my_eyes = 'black'
my_teeth = 'yelowish white'
my_hair = 'black'
print "let's talk about %s ." % my_name
print "He's %d cm tall" % my_height
print "He's %d kg heavy" % my_weight
print "actually that is not too heavy"
print "he's got %s eyes, and %s hair." % (my_eyes, my_hair)
print "his teeth are usually %s depending on the coffee" % my_teeth
print "if I add %d, %d, and %d I get %d." % (my_age, my_height, my_weight, my_age + my_height + my_weight)

The result would be

let's talk about Yoseph Datu Adiatma
He's 169 cm tall
He's 75 kg heavy
actually that is not too heavy
he's got black eyes, and black hair.
his teeth are usually yelowish white depending on the coffee
if I add 24, 169, and 75 I get 268
14 Feb

Musik di Tiap Masa

Di masa lampau, aku sering berseloroh tentang betapa setiap masa dalam hidup kita bisa diwakili oleh musik. Entah lagu dengan syair yang begitu tepat menggambarkan gelora perasaan kita di waktu itu atau hanya sekadar musik yang kala itu begitu setia menemani.

Lagu ini adalah rangkaian musik dan lirik yang mewakili masa – masa akhir kuliah ku. Musiknya yang sufistik memberi ruang tersendiri bagi memori ku untuk senantiasa mengasosiasikannya dengan perjalanan batinku yang saat itu terombang ambing oleh kekaguman pada Filsafat dan kenaifan seorang mahasiswa yang justru malah memuncak di akhir masa studiku. Judulnya yang terkesan picisan (jika kamu belum pernah mendengarkan lagu ini sebelumnya) akan lebur oleh kompleksitas sudut pandang yang mewujud dalam liriknya yang sederhana.

Lonely – The Middle East

We have material minds
And restless hands
Longing hearts
And lonely beds
But we purchase stuff
And work too hard
Use our heads
And fill our beds

Whatve we done
Whatve we done

And were left with wretched hearts
And mangled minds
Concrete feet
And beggars lies
But we live our lives
On broken earth
We need repair our eyes (?)
To kiss the dirt

Whatve we done
Whatve we done

08 Jan

Dimensi Nrimo Orang Jawa

Dalam bukunya yang berjudul Etika Jawa, Frans Magnis Suseno memberikan penggambaran yang cukup menarik tentang bagaimana orang jawa melihat relasi manusia dengan Tuhan. Romo Magnis menggambarkannya sebagai hubungan wayang dan dalang. Dengan kata lain manusia Jawa yang berada dalam refleksi Magnis Suseno memandang kehidupan ini sebagai sebuah pementasan wayang, dengan dalang yang sangat maha kuasa, sudah mengatur berbagai peran dan cerita dari masing – masing tokoh yang berpartisipasi dalam drama kehidupan. Read More

15 Nov

Dalam Keributan Batin

Dalam keributan batin aku memutuskan untuk berpaling,
Tanpa tahu ke mana akan di bawa, jiwa ku memilih untuk hening

Dalam kelabu yang penuh ragu,
Alam dan Pencipta memberi suatu kesadaran baru

Mana yang akan lebih kau pilih?
Bersama mereka yang menyendiri dalam sepi, atau melebur dalam sukacita duniawi?

Simpati menjadi kompas untuk kembali menjadi manusiawi,
Tanpa harus diukur ….. karena dia memang tidak terukur.

Menjadi manusia adalah perjalanan yang berbeda, yang mengada, tidak cuma berada.

Memilih bersama yang kecil,
selalu melihat kompas di dalam hati,
dan setia untuk menjadi kreatif dalam tegangan
Adalah cara mulia menjadi semakin manusiawi.

Terima kasih pasangan baru, teman seperjalanan, Heideger, Komandan Kopi, dan Hani
untuk pelajaran hari ini.

Tjepu 15 November 2015,
di sela waktu menanti kuda besi

image

Stasiun Cepu

26 Jul

Kenalilah Dirimu

Di sebelah Barat Daya Gunung Parnasus, di Lembah Phocis Yunani, terdapat sebuah kota yang merupakan salah satu situs arkeologi terbesar di Yunani, yang bernama Delphi. Kota tersebut pada masa lampau merupakan pusat spiritual Yunani Kuno. Terdapat banyak situs arkeologis yang dulunya merupakan kuil pemujaan dewa – dewi Yunani di kota tersebut. Salah satu Kuil yang cukup terkenal di Kota Delphi tersebut adalah Kuil Apolo.

Kuil Apolo di Delphi (upload.wikimedia.org)

Kuil Apolo di Delphi (upload.wikimedia.org)

Yang cukup menarik dari Kuil ini adalah inskripsi pada gerbangnya yang berbunyi : gnōthi seauton, yang dalam bahasa Indonesia berarti kenalilah dirimu.

Read More

26 May

Duniaku

Di sebuah tempat di negeri antah-berantah, terdapat sebuah komunitas  yang hidup penuh prasangka. Betapa tidak, sedari kecil orang-orang yang tinggal disana selalu diajarkan untuk tidak mudah percaya dengan orang asing, betapapun baik dan ramahnya orang asing tersebut mereka akan dengan mudahnya memandang dan bersikap dengan penuh kecurigaan. Atau malah bahkan semakin ramah orang asing tersebut semakin bertambahlah ketidakpercayaan mereka. Read More